oleh

Dayak Tidak Bisa Bersatu ? : Sebuah Refleksi Dalam Rangka HUT 81 Republik Indonesia

Pengantar
Dua Minggu terakhir ini, Media Sosial ramai soal rencana pengibaran Bendera Dayak di Kalbar. Merah-Kuning-Biru.

Ada yang mendukung, ada yang menganggap tindakan tersebut berlebihan, tidak perlu dilakukan. Dianggap merugikan Dayak sendiri. Kontraproduktif. Pokoknya, respon beragam. Warna-warni seperti bendera Dayak juga.

banner 970x250

Sesuatu yg baru, wajar ada pro dan kontra. Lumrah. Apalagi soal bendera. Sesuatu yg sensitif dari sisi kacamata Aparat Penegak Hukum. Jadi wajar ada yg was-was.

Kuatir? Wajar saja. Kuatir pihak lain, khusus APH memahaminya dari konteks yg berbeda. Memahaminya dari konteks pembangkangan terhadap negara. Tidak ada yg salah. Karena pihak lain tidak paham jiwa dan semangat Bendera tersebut dalam konteks Dayak.

Ya, soal negara, soal NKRI, Dayak sudah selesai. 100% Dayak, 100% Indonesia. Semua Merah Putih. Final. Ini bukan jaman perang kemerdekaan. Jadi Bendera hari ini, harus dipahami dalam konteks panggilan kultural. Panggilan harmoni, persatuan dan panggilan persaudaraan. Tidak ada yg lain² dari itu.

Dayak di Persimpangan Jalan

Sejarah permusuhan Dayak sangat panjang. Jaman ngayau dan perang saudara. Walaupun sudah lama sekali, sudah ada Perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894, tetapi tidak benar² selesai.

Sesungguhnya, _”perang dingin”_ antar komunitas Dayak hingga kini tidak seluruhnya karena faktor sejarah masa lalu. Ada peran politik kolonial. Politik Devide Et Impera sebelum kemerdekaan. Belanda ingin menguasai. Tahu kekuatan Indonesia merdeka pada persatuan tokoh² lokal. Belanda mulai merangkul, adu domba.

Dan politik pecah belah ini, berlanjut paska kemerdekaan sampai sekarang oleh pemilik modal (kapitalisme) yg ingin menguasai kekayaan alam tanah Borneo. Caranya para tokoh masyarakat, Kepala Adat, Ketua Kampung, dll didekati dan “diikat” oleh pemilik modal dan politisi agar berpihak. Dijanjikan kesejahteraan, dijanjikan kehidupan dan ekonomi yang lebih baik, dst.

Dampaknya, suku bangsa Dayak saling cemburu. Saling iri. Saling tidak percaya antara sesama. Kepercayaan terhadap tokoh merosot tajam. Siapa pun yg mengajak bersatu, selalu dicurigai sebagai gerakan sesuatu, mendukung sesuatu, dst. Dan begitulah kondisi nyata dari dulu hingga sekarang.

Hari-hari ini, banyak yg sadar bahwa ada yg salah. Tapi sulit berbalik arah 100%. Ajakan apapun, pasti dicurigai ada sesuatu. Jadi sulit memulainya. Juga tidak tahu harus mulai dari mana. Dayak sudah terpolarisasi dalam kelompok² yg saling mengintip, bahkan saling “menjatuhkan”. Lobang dan dinding pemisah terlalu dalam dan tinggi.

Kondisi demikian, membuat gamang dan risau generasi baru. Mereka sadar ketinggalan jauh. Melihat suku bangsa lain jauh melangkah di depan, lalu direspon sesuai cara masing-masing. Semua ingin lari ke depan tapi tidak berdaya. Lalu cari jalan pintas. Cari cantolan atau pegangan kepada pihak lain yg dianggap lebih kuat. Sama seperti jaman kolonial. Terjebak dalam perangkap pihak luar. Jalan di tempat.*

Janji kesejahteraan dan kehidupan ekonomi lebih baik tidak pernah ada. Itu hanya umpan saja. Itu politik dan strategi menguasai. Memang, itu yg pihak luar inginkan. Dayak tidak boleh bersatu. Karena itu ancaman bagi pihak luar yg ingin menguasai ekonomi dan politik.

Dayak Kultural

Saya sendiri yakin, dalam hati paling dalam dan luhur, komunitas suku bangsa Dayak masih menyimpan rasa persaudaraan yg erat. Belum lenyap. Hanya beku saja. Suhu di luar belum cukup panas untuk mencairkannya. Butuh musuh, butuh suhu yg panas. Semua menunggu panggilan leluhur dari alam baka untuk mencairkan kebekuan yg ada.

Dalam konteks jaman sekarang, simbol panggilan leluhur itu adalah rumah panjang dan bendera (simbol budaya). Simbol panggilan, simbol pesan, simbol maklumat, simbol printah untuk bersatu sebagai saudara satu darah melawan pemiskinan, penindasan dan pembodohan.

Ya, itulah, 3 kata tersebut di atas adalah musuh Dayak kemarin, hari ini dan ke depan. Tidak ada lagi ngayau. Tidak lagi perang. Tidak ada lagi hasrat utk membangun negara sendiri. Yang ada, hasrat diperlakukan sama rasa dan diperlakukan adil saja. Sama seperti warga negara lain di belahan pulau dan propinsi lain.

Dayak Politik

Suku bangsa Dayak hidup sebagai bagian dari NKRI hari ini dan selamanya. Dan politik adalah alat demokrasi dalam mewujudkan pembangunan. Sederhananya, politik adalah alat perjuangan. Bukan alat perang untuk saling menjatuhkan seperti era perang saudara (ngayau).

Kenapa demikian? Sebab musuh Dayak bukan lagi perang fisik. Siapa yg kuat, siapa yg terbaik, siapa yg “dihormati”. Tetapi musuh Dayak adalah kebangkitan sebagai manusia Indonesia seutuhnya, manusia yg bermartabat dan beradab.

Perbedaan warna politik hanyalah strategi untuk terlibat dan untuk berpartisipasi (ambil bagian) serta bersaing dengan komunitas lain di Indonesia. Dan dari sudut pandang atau pisau analisa, sosiologi-antropologi, Dayak boleh berbeda dalam hal baju perjuangan. Boleh berbeda soal cara dan alat yg dipakai untuk berjuang. Tetapi komunitas Dayak wajib sama ideologinya, wajib sama soal isu² budaya, isu kemanusiaan dan isu kerakyatan (Dayak).

Isu Dayak pasti sama. Sama darah, sama miskin, sama² tertindas dan sama terasing di tanah sendiri. Inilah musuh bersama. Inilah ideologi.

Penutup

Sebagai DAYAK INDONESIA, suku bangsa Dayak harus cerdik seperti Ular dan tulus seperti Merpati. Ada 1.300 suku, ada 17 ribu pulau di Indonesia. Harus mampu beradaptasi, mampu hidup berdampingan secara harmoni dan bersahabat dengan suku bangsa lain.

Memang, kondisi ini tidak mudah. Sekaligus kekuatan, peluang dan juga tantangan. Tetapi tidak ada yg tidak mungkin. Sumber daya (SDM), dll memadai. Hanya butuh panggilan saja. Butuh api saja.

PASTI BISA. Stigmatisasi Dayak tidak bisa bersatu hanyalah kalimat ciptaan pihak luar, untuk memecah belah Dayak. Kalimat kolonial itu. Kalimat penjajah kerah putih itu.*

Ingat, Jepang juga pernah mengucapkan kata² yg sama kepada Soekarno-Hatta dalam Rapat BPUKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia) bentukan Jepang, yg diketuai Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

Saatnya Dayak bangkit. Bangun optimisme. Bangun kesadaran jiwa. Bangun Dayak kultural untuk membangkitkan Dayak politik dan Dayak Ekonomi. Dayak kultural dan Dayak politik jangan dipertentangkan. Dua²nya alat perjuangan kebangkitan Dayak kini dan di masa depan.
** GK **🌾🌱☕

Oleh Gat Khaleb A

(Penulis merupakan intelektual Dayak, Aktivis 98 sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Nunukan)

Jakarta, 15 Agustus 2026

 

 

 

*Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.