Hasil survei terkini Poltracking Indonesia, (FOTO : Illustrator Koranborneo)
JAKARTA, KORANBORNEO – Partai Gerindra, PDI Perjuangan, dan Partai Golkar menjadi tiga partai politik dengan elektabilitas tertinggi dalam survei nasional Poltracking Indonesia yang dilakukan pada 14–20 Agustus 2026.
Dalam simulasi surat suara 18 partai politik, Gerindra memperoleh elektabilitas 23,2 persen, disusul PDI Perjuangan 11,6 persen dan Partai Golkar 10,4 persen.
Selanjutnya, PKB memperoleh 6,2 persen, Partai Demokrat 6,1 persen, Partai NasDem 4,4 persen, PAN 3,4 persen, PKS 3,3 persen, PSI 2,3 persen, dan PPP 1,9 persen. Sementara partai politik lainnya berada di bawah 1 persen.
Survei tersebut menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 1.220 responden. Margin of error survei tercatat sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Klaster survei mencakup 38 provinsi di seluruh Indonesia secara proporsional berdasarkan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024. Stratifikasi dilakukan berdasarkan proporsi jenis kelamin pemilih.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh pewawancara terlatih terhadap responden yang dipilih secara acak dengan bantuan teknologi aplikasi. Setiap pewawancara mewawancarai 10 responden pada setiap desa atau kelurahan terpilih.
Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro menjelaskan bahwa survei tersebut secara umum ditujukan untuk mengukur peta elektoral sekaligus melihat dinamika partai politik terkini.
Kepercayaan terhadap Partai Masih Ada, tetapi Kedekatan Rendah
Salah satu temuan survei menunjukkan adanya jarak antara kepercayaan publik terhadap keberadaan partai politik dengan tingkat kedekatan masyarakat terhadap partai.
Sebanyak 49,7 persen responden menyatakan masih percaya terhadap keberadaan partai politik. Sementara 37,1 persen menyatakan tidak percaya.
Namun, ketika ditanya mengenai kedekatan dengan partai politik, hanya 12,3 persen responden yang menyatakan merasa dekat. Sebaliknya, 66,8 persen menyatakan tidak merasa dekat dengan partai politik.
Menurut Yoki, temuan tersebut menggambarkan bahwa kepercayaan terhadap keberadaan partai politik belum otomatis berbanding lurus dengan kedekatan masyarakat dengan partai politik.
Dalam pilihan legislatif, publik juga lebih banyak menyatakan kecenderungan memilih figur calon dibandingkan partai politik. Sebanyak 53,3 persen responden mengatakan lebih cenderung memilih calon anggota legislatif, sedangkan 24,7 persen lebih cenderung memilih partai politik.
Temuan ini menunjukkan bahwa figur calon masih menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pilihan pemilih pada pemilihan legislatif.
Mayoritas Publik Belum Mengetahui Ambang Batas Parlemen
Survei juga mengukur tingkat pengetahuan masyarakat mengenai ambang batas parlemen atau parliamentary threshold.
Hanya 17,7 persen responden yang menyatakan mengetahui bahwa ambang batas parlemen saat ini sebesar 4 persen. Sementara 64,7 persen menyatakan tidak mengetahui ketentuan tersebut.
Di antara responden yang mengetahui ambang batas parlemen, sebanyak 49 persen menilai angka 4 persen tetap tepat dipertahankan.
Sebanyak 14,8 persen menilai ambang batas parlemen lebih tepat berada di atas 7 persen, sementara 7,6 persen memilih angka 6 persen.
Yoki menjelaskan bahwa temuan tersebut memperlihatkan masih terbatasnya pengetahuan publik mengenai salah satu instrumen penting dalam sistem kepartaian dan representasi politik di parlemen.
Dukungan Partai terhadap Capres Tidak Dominan Memengaruhi Pilihan
Poltracking juga mengukur sejauh mana dukungan partai politik terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden memengaruhi pilihan masyarakat.
Sebanyak 44,6 persen responden menyatakan dukungan partai politik terhadap salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden tidak memengaruhi pilihan mereka terhadap partai politik tersebut.
Sebaliknya, 32,8 persen mengatakan dukungan tersebut memengaruhi pilihan mereka.
Sementara ketika ditanyakan mengenai pengaruh dukungan partai politik terhadap pilihan pasangan calon presiden dan wakil presiden tertentu, sebanyak 44,5 persen menyatakan tidak berpengaruh. Sebanyak 33 persen menyatakan berpengaruh.
Menurut Yoki, hasil tersebut menunjukkan bahwa dukungan partai terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden tidak selalu menjadi faktor yang menentukan pilihan politik masyarakat.
Mayoritas Tidak Mengenal Wakilnya di DPR RI
Persoalan hubungan antara pemilih dan wakil rakyat juga terlihat dalam survei tersebut.
Sebanyak 57,6 persen responden menyatakan tidak tahu atau tidak mengenal anggota DPR RI yang mewakili daerah mereka. Hanya 26,2 persen yang menyatakan tahu atau mengenal.
Yoki menyampaikan bahwa rendahnya tingkat pengenalan terhadap anggota DPR RI menjadi salah satu temuan yang menggambarkan masih adanya jarak antara pemilih dengan representasi politiknya di parlemen.
Figur dan Identitas Partai Melekat dalam Ingatan Publik
Dalam pertanyaan terbuka atau top of mind, sejumlah partai politik memiliki asosiasi tertentu yang paling banyak muncul dalam ingatan responden.
Ketika mendengar Partai Gerindra, 26,1 persen responden menyebut Prabowo Subianto. Pada PDI Perjuangan, figur yang paling banyak disebut adalah Megawati Soekarnoputri, sebesar 17 persen.
Partai Demokrat paling banyak diasosiasikan dengan Susilo Bambang Yudhoyono, sebesar 16 persen, sedangkan Partai NasDem paling banyak dikaitkan dengan Surya Paloh, sebesar 11 persen.
Untuk PKB, asosiasi yang paling banyak muncul adalah Nahdlatul Ulama, sebesar 6,1 persen.
Sementara pada Partai Golkar, sebanyak 6,4 persen responden mengaitkannya dengan lambang pohon beringin.
Adapun PKS paling banyak dikaitkan dengan identitas agamis, sebesar 3,2 persen, sedangkan PAN paling banyak diasosiasikan dengan Zulkifli Hasan, sebesar 2,8 persen.
Yoki menjelaskan bahwa hasil top of mind tersebut memperlihatkan bagaimana publik mengidentifikasi partai politik melalui figur, organisasi, simbol maupun identitas tertentu yang melekat dalam ingatan mereka.
Gerindra Memimpin Simulasi 18 Partai
Dalam simulasi surat suara 18 partai politik, Gerindra mencatat elektabilitas 23,2 persen.
PDI Perjuangan berada pada posisi berikutnya dengan 11,6 persen, kemudian Golkar 10,4 persen.
PKB memperoleh 6,2 persen, Demokrat 6,1 persen, NasDem 4,4 persen, PAN 3,4 persen, PKS 3,3 persen, PSI 2,3 persen, dan PPP 1,9 persen. Partai lainnya berada di bawah 1 persen.
Yoki menekankan bahwa angka tersebut merupakan potret kondisi opini publik berdasarkan pengumpulan data pada 14–20 Agustus 2026. Karena itu, hasil survei tersebut merepresentasikan kondisi pada periode pengambilan data dan masih dapat berubah seiring perkembangan isu maupun dinamika politik.
Menurut Yoki, berbagai kemungkinan perubahan persepsi publik tetap terbuka, bergantung pada isu yang berkembang serta langkah-langkah strategis yang dilakukan masing-masing partai politik.
Secara keseluruhan, survei Poltracking memperlihatkan dua sisi dinamika kepartaian. Di satu sisi, publik masih menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap keberadaan partai politik. Namun di sisi lain, tingkat kedekatan dengan partai relatif rendah dan figur calon legislatif masih lebih banyak menjadi pertimbangan pemilih dibandingkan identitas partai.
Survei nasional tersebut menggunakan 1.220 responden yang tersebar di 38 provinsi dengan margin of error ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasil dan analisis survei disampaikan oleh Poltracking Indonesia pada 23 September 2026 di Jakarta.
Yoki Alvetro
Peneliti Poltracking Indonesia













