TANJUNGSELOR, KORANBORNEO – Upaya Kaltara memasukkan 27 situs geologi sebagai Geoheritage ke Kementerian ESDM bukan sekadar urusan konservasi. Lebih jauh, langkah ini dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya sektor wisata alam dan ekonomi kreatif.
Kabid Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Kaltara, Trimulbar, menuturkan kekayaan geologi Kaltara menyimpan potensi wisata yang dapat dikembangkan menjadi destinasi edukatif.
“Mulai dari gua, sungai bawah tanah, hingga batuan unik seperti di Batu Benau dan Gunung Putih, semuanya memiliki daya tarik wisata berbasis geologi yang kuat,” ujarnya.
Identifikasi lanjutan pada 2024 mengungkapkan 24 situs tersebar di Bulungan, Tana Tidung (KTT), dan Malinau. Bulungan mendominasi jumlah temuan dengan berbagai formasi menarik di hulu sungai, kawasan Marah, hingga Bimping.
Dengan penetapan Geoheritage, ia yakin kawasan-kawasan ini dapat menjadi pusat wisata geologi yang membuka ruang usaha untuk pemandu lokal, UMKM, hingga layanan wisata.
“Geopark bukan hanya tentang batuan. Ini tentang membuka kesempatan ekonomi baru, tentu tetap dalam kerangka konservasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas pihak sangat dibutuhkan agar potensi wisata geologi dapat benar-benar memberi dampak ekonomi, tanpa merusak lingkungan.
“Kami harap masyarakat turut menjaga situs-situs ini. Jika pengakuan Geopark tercapai, manfaatnya akan dirasakan langsung masyarakat di sekitar kawasan,” kata Trimulbar.
Pemprov Kaltara memastikan koordinasi terus dilakukan demi memperkuat usulan dan mematangkan pengelolaan kawasan wisata geologi yang berkelanjutan.










