TANJUNG SELOR, KORANBORNEO – Pelaksanaan survei seismik 3D migas di Wilayah Kerja (WK) Akia, perairan Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan, tidak hanya menitikberatkan pada aspek teknis, tetapi juga pada sosialisasi kepada masyarakat pesisir, khususnya nelayan.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Utara menyatakan bahwa pendekatan persuasif dilakukan sejak awal guna meminimalkan dampak aktivitas survei terhadap kegiatan melaut.
Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Kaltara, Trimulbar, mengungkapkan bahwa sosialisasi dilakukan dalam dua tahap, yakni kepada pemerintah daerah dan langsung kepada nelayan di Kota Tarakan serta Pulau Bunyu.
“Kami turun langsung ke laut bersama tim untuk menyampaikan informasi kepada nelayan, sekaligus membersihkan material terapung di area kerja,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa selama survei berlangsung, area tertentu harus disterilkan demi keselamatan operasi. Nelayan diminta menjauh sementara dari lokasi survei yang sedang aktif.
“Kami pahami ada keterbatasan ruang tangkap, tapi ini bersifat sementara dan berada dalam pengawasan ketat,” katanya.
Meski demikian, Trimulbar menegaskan bahwa seluruh potensi dampak lingkungan telah melalui kajian dan disertai langkah mitigasi. Kegiatan scouting laut menjadi bagian penting untuk memastikan area kerja aman dan minim risiko.
Survei seismik ini diharapkan mampu membuka peluang baru bagi pengembangan sektor migas di Kalimantan Utara, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat.
“Tujuan akhirnya adalah mendorong kemajuan ekonomi daerah melalui pemanfaatan potensi migas yang berkelanjutan,” pungkasnya.












