oleh

Viasmudji Bitticaca, Tugas Negara dan Nahkoda PCPS GMKI

Di dalam organisasi, tidak semua orang ditakdirkan menjadi orator yang menguasai panggung. Tidak semua pula menjadi politisi yang mengisi ruang-ruang kekuasaan. Ada sebagian yang memilih jalan sunyi yakni bekerja, membangun, menjaga, dan memastikan sistem tetap berjalan.

Di antara jalan sunyi itu, nama senior GMKI Ir. Viasmudji Bitticaca, S.T.,M.T tumbuh sebagai representasi kader GMKI yang menempuh jalur pengabdian profesional tanpa pernah benar-benar meninggalkan rumah kaderisasinya. Ia dikandung dari rahim GMKI Cabang Makassar dan melanjutkan dedikasinya di berbagai daerah.

banner 970x250

Selama puluhan tahun, ia berkiprah di dunia infrastruktur. Sebuah bidang yang sering kali tidak mendapat sorotan publik sebesar politik atau bisnis. Namun justru dari sektor inilah kehidupan masyarakat bergerak. Pria asal Tana Toraja ini, menapaki perjuangan infrastruktur negara dengan tidak sedikitpun meninggalkan GMKI. Kondisi jalan yang baik menentukan distribusi pangan. Jembatan yang kokoh menentukan akses pendidikan dan kesehatan. Infrastruktur yang terhubung menentukan masa depan sebuah wilayah.

Sebagai insinyur dan pejabat di lingkungan Kementerian PUPR, Viasmudji memahami bahwa pembangunan bukanlah sekadar proyek fisik. Pembangunan adalah proses menghadirkan keadilan melalui akses. Hari ini ia pun tak lelah mengemban amanat negara sebagai Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Kalimantan Timur di bawah Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur.

Cara pandang itu tampaknya tidak lahir semata dari bangku kuliah Teknik Sipil Universitas Hasanuddin atau pendidikan magisternya di Institut Teknologi Bandung. Cara pandang itu dibentuk oleh pengalaman panjangnya sebagai kader GMKI.

Kaderisasi GMKI sebagai Investasi Peradaban

Dalam banyak organisasi, kaderisasi sering dipahami sebagai proses regenerasi kepengurusan. Kader dipersiapkan untuk menjadi ketua cabang, pengurus pusat, atau pemimpin organisasi berikutnya. Namun bagi Viasmudji, kaderisasi memiliki makna yang jauh lebih besar. Kaderisasi adalah investasi peradaban. Organisasi mahasiswa tidak didirikan untuk menghasilkan pengurus. Organisasi mahasiswa didirikan untuk menghasilkan manusia yang kelak mengambil bagian dalam perjalanan bangsa.

Karena itu baginya, ukuran keberhasilan GMKI tidak dapat hanya dihitung dari jumlah komisariat, cabang, atau peserta kegiatan. Ukuran yang sesungguhnya adalah sejauh mana kader-kadernya hadir dan bekerja di tengah masyarakat.

Apakah mereka menjadi guru yang mencerdaskan?

Apakah mereka menjadi birokrat yang bersih?

Apakah mereka menjadi pengusaha yang berkeadilan?

Apakah mereka menjadi pemimpin yang melayani?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi inti dari gagasannya mengenai akselerasi dan distribusi kader.

Menurutnya, organisasi tidak boleh berhenti pada proses pembentukan. Organisasi harus mampu memastikan kader-kader terbaiknya tersebar di berbagai sektor strategis kehidupan bangsa. Distribusi kader bukan soal menempatkan orang pada jabatan tertentu. Distribusi kader adalah memastikan nilai-nilai organisasi hadir di berbagai ruang pengabdian.

Membumikan GMKI di Tanah Kalimantan

Sosok Viasmudji dilantik oleh Ketua Umum Pengurus Nasional Perkumpulan Senior GMKI (PNPS GMKI) periode 2025–2028, William Sabandar. Ia beserta jajaran pengurus dikukuhkan di kota minyak Balikpapan, pada 29 Mei 2026.

Ketika dipercaya memimpin Pengurus Cabang Perkumpulan Senior GMKI Balikpapan Masa Bakti 2026-2029, ia menghadapi konteks yang berbeda dibanding PCPS GMKI di berbagai daerah. Yang membedakan, Kalimantan Timur sedang mengalami transformasi besar. Kehadiran Ibu Kota Nusantara mengubah arah pembangunan nasional. Meski masih melalui berbagi tahap, eksistensi Kaltim secara nasional dan global kian pesat. Arus investasi meningkat. Mobilitas manusia bertambah. Struktur sosial mengalami dinamika.

Dalam situasi seperti itu, ia memandang GMKI tidak boleh menjadi penonton. Gagasannya tentang “membumikan GMKI di Kalimantan Timur” sesungguhnya merupakan kritik halus terhadap kecenderungan organisasi yang terkadang terlalu sibuk mengurus dirinya sendiri.

GMKI harus hadir dalam isu pendidikan. GMKI harus hadir dalam isu lingkungan. GMKI harus hadir dalam isu tata kelola pemerintahan. GMKI harus hadir dalam pembangunan masyarakat adat. GMKI harus hadir dalam pengembangan sumber daya manusia di kawasan IKN.

Membumikan GMKI berarti membawa nilai organisasi keluar dari ruang rapat dan masuk ke ruang kehidupan. Karena sesungguhnya organisasi kader seperti GMKI akan dihormati bukan karena sejarahnya, melainkan karena relevansinya.

Kongres ke-39 GMKI di Samarinda dan Politik Kehadiran

Bagi banyak orang, Kongres ke-39 GMKI adalah agenda organisasi nasional. Namun bagi Viasmudji, kongres tersebut memiliki makna yang lebih dalam. “Ini adalah momentum sejarah GMKI bagi Kalimantan,” dalam percakapannya kepada saya awal tahun 2025. Ia pun terlibat penuh sebagai panitia kongres dan sangat memahami pasang surutnya dinamika persiapan hajatan besar tersebut. Ketika saya masih mengemban amanah sebagai Kordinator Wilayah VI (Kalteng, Kalsel, Kaltim, Kaltara) PP GMKI, bang Vias menjadi salah satu mentor moral dan gagasan untuk saya mengawal kongres.

Selama bertahun-tahun, pusat aktivitas nasional cenderung terkonsentrasi di kota-kota besar Pulau Jawa. Ketika Samarinda menjadi tuan rumah kongres nasional GMKI, terjadi pergeseran simbolik yang penting.

Kalimantan tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan. Kalimantan menjadi ruang produksi gagasan. Kalimantan menjadi tempat lahirnya arah baru organisasi.

Dalam perspektif itu, menyukseskan kongres bukan semata soal penyelenggaraan acara yang baik. Yang lebih penting adalah meninggalkan warisan intelektual, organisatoris, dan sosial bagi GMKI maupun masyarakat Kalimantan Timur.

GMKI sebagai Anak Kandung Gereja

Salah satu gagasan yang paling sering dikaitkan dengannya adalah bahwa GMKI merupakan anak kandung gereja.

Dalam konteks kekinian, gagasan ini memiliki dimensi yang jauh lebih strategis dari pada sekadar hubungan historis. Bagi Viasmudji, gereja dan GMKI memiliki misi yang sama yaitu membentuk manusia yang utuh.

Gereja membangun fondasi moral dan spiritual. GMKI mengembangkan kapasitas intelektual, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial. Karena itu hubungan keduanya tidak boleh dipahami secara administratif atau formalistik. Hubungan itu adalah hubungan nilai. Ketika gereja kehilangan kader intelektual, gereja akan kesulitan menjawab tantangan zaman.

Sebaliknya, ketika organisasi kehilangan fondasi moral, organisasi akan mudah kehilangan arah. Di sinilah GMKI berperan sebagai jembatan yang mempertemukan iman, ilmu, dan pengabdian.

Dari Jalan Nasional Menuju Jalan Pengabdian

Karier Viasmudji di lingkungan Kementerian PUPR memperlihatkan satu benang merah yang menarik. Ia menghabiskan sebagian besar hidup profesionalnya membangun konektivitas. Dari Maluku, Sulawesi Selatan, Papua, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, hingga Kalimantan Timur.

Ia bekerja pada proyek-proyek yang memastikan masyarakat dapat terhubung dengan pasar, sekolah, rumah sakit, dan pusat pertumbuhan ekonomi. Namun pada saat yang sama, melalui GMKI, ia berupaya membangun konektivitas yang berbeda.

Menghubungkan senior dengan kader.

Menghubungkan gereja dengan generasi muda.

Menghubungkan idealisme kampus dengan kebutuhan masyarakat.

Menghubungkan nilai dengan tindakan.

Jika pembangunan jalan nasional bertujuan memperpendek jarak geografis, maka kaderisasi bertujuan memperpendek jarak antargenerasi. Keduanya membutuhkan kesabaran. Keduanya membutuhkan visi jangka panjang. Dan keduanya tidak pernah selesai dalam satu periode kepemimpinan.

Warisan yang Ingin Ditinggalkan

Pada akhirnya, perjalanan seorang kader tidak diukur dari berapa banyak jabatan yang pernah disandang. Jabatan selalu memiliki masa akhir. Yang bertahan adalah pengaruh, nilai, dan manusia yang dibentuk selama perjalanan itu. Dalam konteks itulah kiprah Viasmudji dapat dibaca.

Ia bukan sekadar birokrat yang mengurus jalan nasional. Ia adalah bagian dari generasi GMKI yang percaya bahwa organisasi harus menghasilkan karya, bukan sekadar wacana, menghasilkan pelayan masyarakat, bukan sekadar pemegang jabatan. Karena itu, warisan terbesar yang tampaknya ingin ia tinggalkan bukanlah proyek fisik yang suatu hari akan digantikan oleh pembangunan baru.

Melainkan lahirnya generasi kader yang tersebar di berbagai bidang pengabdian, tetap berakar pada nilai-nilai gereja, berpikir kritis sebagai insan akademis, dan bekerja bagi kepentingan bangsa.

Sebab pada akhirnya, jalan yang paling penting untuk dibangun bukanlah jalan yang menghubungkan satu kota dengan kota lain.

Melainkan jalan yang menghubungkan nilai, pengetahuan, dan pengabdian dalam kehidupan manusia.(*)

 

Tulisan ini merupakan refleksi pemikiran Kristianto Triwibowo, Kordinator Wilayah VI (Kalteng, Kalsel, Kaltim, Kaltara) PP GMKI M.B 2024, Mahasiswa Magister Biologi Universitas Kristen Satya Wacana, Pimpinan Umum koranborneo.com